Minggu, 13 Mei 2012

teknik pemeliharaan larva udang vannamei


I. PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
          Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat  adalah dengan meningkatkan produksi di sektor perikanan. Udang merupakan komoditi primadona, karena kemampuannya menembus pasar internasional, juga memberikan andil yang tidak sedikit dalam meningkatkan devisa negara (Haliman dan Adijaya, 2005)
Kurun waktu terakhir ini produksi udang dari hasil budidaya mengalami penurunan drastis akibat serangan patogen, baik bakteri maupun virus. Upaya pemerintah dalam rangka untuk memulihkan kondisi budidaya yang sedang menurun tersebut dilakukan melalui alternatif udang vannamei, yang pada akhirnya udang jenis ini mampu menjadi komoditas perikanan yang memiliki prospek yang cukup baik karena bernilai ekonomis dan banyak diminati masyarakat (Haliman dan Adijaya, 2005).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, dilakukan melalui upaya pembenihan udang vannamei baik berskala kecil atau skala mini hatchery hingga usaha pembenihan yang dimiliki pemerintah.
Benur merupakan salah satu faktor utama keberhasilan dalam budidaya.  Karena itu benur yang banyak diminati para petambak ini harus ditingkatkan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini selayaknya mampu menjadi pendorong dalam menghasilkan benur yang benar-benar berkualitas bagi pengembangan budidaya udang vannamei di Indonesia.
Berdasarkan permasalahan di atas penulis akan melakukan PKL di daerah Situbondo dengan topik teknik pemeliharaan larva udang vannamei (Litopenaeus vannamei).

1.2 Tujuan
Tujuan Praktek Kerja Lapang (PKL) II adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik pemeliharaan larva udang vannamei (Litopenaeus Vannamei) di BBAP Situbondo Provinsi Jawa Timur.
·      Mengetahui tentang teknik pembenihan khususnya  teknik pemeliharaan larva udang vannamei.
·      Mengikuti secara langsung tentang kegiatan yang sedang berlangsung di tempat tersebut.
·      Memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang teknik pemeliharaan larva udang vannamei.
·      Mengetahui permasalahan dalam pembenihan khususnya tentanng pemeliharaan larva udang vannamei.
·      Memperoleh data harga satuan beberapa sarana produksi yang di gunakan pada pemeliharaan larva udang vannamei.










II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Udang Vannamei
2.1.1 Klasifikasi
         Menurut Haliman dan Adijaya (2005), Klasifikasi udang vaname (Litopenaeus Vannamei) adalah sebagai berikut :
            Kingdom                      : Animalia
            Sub kingdom               : Metazoa
            Filum                           : Artrhopoda
            Sub filum                     : Crustacea
            Kelas                           : Malascostraca
            Sub kelas                    : Eumalacostraca
            Super ordo                  : Eucarida
            Ordo                            : Decapoda
            Sub ordo                     : Dendrobrachiata
            Infra ordo                    : Penaeidea
            Super famili                 : Penaeioidea
            Famili                          : Penaeidae
            Genus                         : Litopenaeus
            Spesies                       : Litopenaeus vannamei
2.1.2 Morfologi
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) tubuh udang vaname dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Vaname memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang vannamei sudah mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut.
1.
Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).
2.
Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.
3.
Organ sensor, seperti pada antena dan antenula. Kepala (thorax).
Kepala udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxillipied dan lima pasang kaki berjalan (periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxillipied sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada chepalothorax yang dihubugka oleh coxa.
Bentuk periopoda beruas-ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di antara coxa dan dactylus, terdapat ruang berturut-turut disebut basis, ischium, merus, carpus, dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies penaeid dalam taksonomi.
2.1.3 Habiitat dan Siklus Hidup
         Udang vannamei adalah udang asli dari perairan amerika latin yang kondisi iklimnya subtropics. Di habitat alaminya dia suka hidup pada kedalaman kurang lebih 70 meter.Udang vannamei bersifat nocturnal, yaitu aktif mencari makan pada malam hari. Proses perkainan pada udang vannamei ditandai dengan loncatan betina secara tiba-tiba. Pada saat meloncat tersebut, betina mengeluarkan sel-sel telur.Pada saat yang bersamaan, udang jantan mengeluarkan sperma sehingga sel telur dan sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung kira-kira satu menit. Sepasang udang vannamei berukuran 30-45 gram dapat menghasilkan telur sebanyak 100.000-250.000 butir. Siklus hidup udang vannamei sebelum ditebar di tambak yaitu stadia naupli, stadia zoea, stadia mysis, dan stadia post larva. Pada stadia naupli larva berukuran 0,32-0,59 mm, sistim pencernaanya belum sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur. Stadia zoea terjadi setelah larva ditebar pada bak pemeliharaan sekitar 15-24 jam. Larva sudah berukuran 1,05-3,30 mm dan pada stadia ini benih mengalami 3 kali moulting. Pada stadia ini pula benih sudah bisa diberi makan yang berupa artemia.Pada stadia mysis, benih udang sudah menyerupai bentuk udang.Yang dicirikan dengan sudah terluhatnya ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Selanjutnya udang mencapai stadia post larva, dimana udang sudah menyerupai udang dewasa. Hitungan stadianya sudah menggunakan hitungan hari.Misalnya, PL1 berarti post larva berumur satu hari.Pada stadia ini udang sudah mulai bergerak aktif.
2.1.4 Perkembangan Larva Udang Vannamei
Telur yang telah menetas pada dasarnya masih bersifat planktonis dan bergerak mengikuti arus air. Menurut Wyban dan Sweeney (1991) dalam  pertumbuhan, larva akan berkembang dengan sempurna pada kondisi suhu 26-28ºC, oksigen terlarut 5-7 mg/l, salinitas 35 ppt. Setelah menetas larva akan berkembang menjadi 3 stadia yaitu nauplius, zoea, mysis. Setiap stadia akan dibedakan menjadi sub stadia sesuai dengan perkembangan morfologinya. Pergantian stadia terjadi setelah larva mengalami pergantian kulit (moulting).
Menurut Martosudarmo dan Ranoemiraharjo (1980) perkembangan larva udang vannamei pada setiap stadia mulai dari stadia nauplius sampai stadia post larva sebagai berikut :
1.    Stadia Nauplius
         Stadia ini terbagi menjadi enam tingkatan dan berlangsung antara 35-50 jam. Pada stadia ini belum memerlukan makanan dari luar karena masih memiliki cadangan makanan dari kuning telur. Karakteristik larva pada stadia nauplius dapat dilihat pada tabel.
Tabel 1. Karakteristik larva udang pada stadia nauplius
Stadia
Karakteristik
Nauplius I
Bentuk badan bulat telur dan mempunyai anggota badan tiga pasang .
Nauplius II
Pada ujung antena pertama terdapat setai (rambut) yang satu panjang dan dua buah yang pendek.
Nauplius III
Dua buah furcel mulai tampak jelas dengan masing-masing tiga duri (spine), tunas maxillaped mulai tampak.
Nauplius IV
Masing-masing furcel terdapat empat buah duri, exopoda pada antena kedua beruas-ruas
Nauplius V
Struktur tonjolan tubuh pada pangkal maxilla dan organ pada bagian depan sudah mulai tampak jelas.
Nauplius VI
Perkembangan bulu-bulu makin sempurna dan duri pada furcel tumbuh makin panjang.
Sumber : Haliman dan Adijaya, (2006)
2. Stadia Zoea
         Pada fase ini larva mulai tampak aktif mengambil makanan sendiri dari luar, terutama plankton. Fase zoea berlangsung selama 3-4 hari (3 stadia).
3. Stadia Mysis
Setelah fase zoea selesai maka stadia selanjutnya adalah fase mysis yang berlangsung selama 4-5 hari. Fase mysis mengalami tiga kali perubahan atau stadia
4. Stadia Post Larva (PL)
Bentuk paling akhir dan paling sempurna dari seluruh metamorfosa adalah post larva (PL). pada fase ini tidak mengalami perubahan bentuk karena seluruh bagian anggota tubuh sudah lengkap dan sempurna seperti udang dewasa. Post larva yang berumur 20 -25 hari dapat dilepas di tambak.
Perkembangan stadia Post Larva dapat dilihat pada gambar 1.
                     
                                      Gambar 1. Stadia Post Larva (Mudjiman. A ,1989)
2.1.5 Tingkah Laku Udang Vannamei
Dalam usaha pembenihan udang, perlu adanya pengetahuan tentang tingkah laku udang. Menurut Haliman dan Adijaya (2005), beberapa tingkah laku udang yang perlu kita ketahui antara lain                                                  
1.    Sifat nokturnal yaitu sifat binatang yang aktif mencari makan pada waktu   malam hari dan pada waktu siang hari mereka lebih suka beristirahat, baik membenamkan diri pada lumpur maupun menempel pada suatu benda yang terbenam.
2.    Sifat kanibalisme yaitu sifat suka memangsa sejenisnya. Sifat ini sering timbul pada udang yang kondisinya sehat, yang tidak sedang ganti kulit. Sasaranya adalah udang-udang yang kebetulan ganti kulit.
3.    Ganti kulit (moulting) yaitu suatu proses pergantian kutikula lama digantikan dengan kutikula yang baru. Kutikula adalah kerangka luar udang yang keras (tidak elastis). Oleh karena itu untuk tumbuh menjadi besar mereka perlu melepas kulit lama dan menggantikan dengan kulit baru.
4.    Daya tahan udang sangat besar pada waktu berupa benih sangat tahan pada perubahan kadar garam (salinitas). Sifat demikian dinamakan sifat euryhaline. Sifat lain yang menguntungkan adalah ketahanan terhadap perubahan suhu dan sifat ini dikenal sebagai Eurytherma.

5.    Menyukai hidup di dasar (bentik).
6.    Tipe pemakan lambat tetapi terus menerus (continous feeder).

2.2  Sarana dan Prasarana
2.1.2   Sarana Pokok
       2.2.1.1 Bak Pemeliharaan Larva
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak pemliharaan adalah bak unuk pemliharan larva. Untuk membangunnya perlu diperhatikan bentuk dan ukurannya.
a. Bentuk
Larva udang tidak memerlukan bentuk bak yang spesifik. Bak dapat berbentuk segi empat, bulat, atau oval. Yang penting sesuai dengan biaya yang tersedia dan agar bentuk pekarangan tetap indah
Bak larva sudut-sudutnya tidak mati, agar sisa-sisa metabolisme, sisa-sisa makanan, larva yang mati, dan kotoran lainnya tidak terkumpul pada bagian ini. Dasar bak memiliki kemiringan 2% kearah pembuangan,agar mudah dikeringkan dan dibersikan. Sedang dinding harus licin, agar kotoran, jamur atau parasit tidak menempel serta mudah dibersihkan.
b.Ukuran
Baik bak yang berukuran besar maupun yang kecil keduanya sama baiknya. Karena keduanya dapat digunakan untuk menghasilkan postlarva (PL) jual. Namun, dari kedua ukuran itu ada keuntungan dan kerugiannya. Bak besa akan menciptakan kondisi air media yang stabil seperti suhu dan salinitasnya, tetapi sering mendapat serangan penyakit.
Dengan demikian ukuran yang ideal adalah yang kapasitasnya 10-20 ton; tingginya 1,2-1,5 m; panjang dan lebarnya masing-masing 4 m dan 2,5 m.

2.2.1.2 Bak kultur pakan alami
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak kultur pakan alami dapat dibuat dari kayu yang dilapisi plastik atau semen. Ukuran bak yang baik 10% dari ukuran kapasitas bak pemeliharaan, yaitu panjangnya 2 m; lebar 2 m; tinggi 0,6 m. Bak sebesar itu sudah cukup untuk memenuhi satu siklus pemeliharaan pada bak pemeliharaan yang berkapasitas 10 ton.
2.2.1.3 Instalasi Sistem Aerasi
Oksigen terlarut (DO) merupakan faktor pembatas bagi sebagian besar organisme aquatik, menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bahwa oksigen yang terlarut saling berkaitan dengan parameter-parameter kualitas air lainya, oleh karena itu kandungan okigen harus stabil. Untuk menjaga kestabilan oksigen terlarut di air media, maka perlu alat yang menyuplai oksigen. Kalau hanya mengandalkan difusi dan fotosintesis Skletonema costotum akan kurang mencukupi. Alat yang biasa di digunakan adaah blower yang dilengkapi dengan slang, batu aerasi, dan kran pengatur udara.
2.2.1.4 Tenaga Listrik
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) tanpa energi listrik, kegiatan operasional tidak dapat berjalan sesui rencana. Energi listrik digunakan sebagai penggerak blower, pompa celup, dan penerangan karenanya tenaga listrik disalur selama 24 jam. Sumber energi listrik diperoleh dari mesin genset atau PLN.
Namun yang baik didatangkan dari PLN bila ditinjau dari tegangannya maupun kebersihannya. Jika digunakan genset akan muncul asap sisa pembakaran dan tumpahan solar yang akan mengganggu kehidupan larva.
2.2.2 Sarana Penunjang
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) yang merupakan sarana penunjang yaitu saringan, termometer, salinometer, pompa celup, ember, wadah penetasan Artemia sp.

2.3  Pemeliharaan Larva Udang Vannamei
2.3.1  Persiapan Bak
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993)  persiapan bak meliputi :
a. Sanitasi Bak
Bak pemeliharaan yang akan digunakan harus disucihamakan sehingga bebas dari penyakit. Caranya, bak dikeringkan (dijemur), kemudian dasar dan dinding bak disikat. Agar lebih steril gunakan zat-zat kimia seperti klorin dengan dosis 100 ppm, KMnO4 (kalium permanganat) 10 ppm, dan formalin 50 ppm.
b. Perlakuan air media
Air media, umumnya dibeli pada penjual khusus yang menyediakan jasa penyaluran air laut. Air laut yang dibutuhkan adalah air yang berkadar garam 29-31 permil, dan bebas bahan pencemar.
2.3.2 Penebaran Nauplius
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) sebelum naupli ditebar ke dalam bak perlu diperhatikan salinitas, kondisi naupli, dan suhu air media. Ciri naupli yang sehat, gerakannya sangat aktif terutama jika kena sinar. Dan bila terjadi perbedaan suhu dan salinitas, maka dilakukan proses penyesuaian yang dikenal dengan proses aklimatisasi.
Aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara, air media yang di dalam bak dialirkan ke dalam baskom yang berisi naupli dengan menggunakan dengan menggunakan slang plastik yang berdiameter kecil, sehingga aliran airnya hanya sebesar benag jahit.
Untuk penurunan kadar garam sebesar 1 permil diperlukan waktu antara 15-30 menit. Apabila salinitas antara air media pada bak pemeliharaan sudah sama dengan air media pada baskom naupli, maka proses akilmatisasi salinitas dianggap selesai.
Setelah aklimatisasi selesai naupli ditebarkan ke dalam bak pemeliharaan dengan menjungkirkan baskom yang berisi naupli perlahan-lahan. Padat tebar nauplii yang aman berkisar 100-150 ekor/L.
2.3.3 Penyediaan Pakan
Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses pemeliharaan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang biasa diberian pada larva uadang vannamei yaitu Skeletonema costatum dan Artemia sp. Pakan alami ini sangat dibutuhkan pada stadium akhir napulius (N-6) atau awal stadium zoea. Sedangkan pakan buatan mulai diperlukan ketika larva memasuki stadium zoea. Pakan buatan ini ada yang dijual dalam bentuk kalengan maupun bungkusan.
Dosis pakan yang diberikan pada larva tidak dihitung berdasarkan jumlah populasi larva, tetapi diukur dengan satuan ppm, sebab larva membutuhkan pakan yang tersedia setiap saat. Yang dimaksud dengan ppm adalah gram/ton volume air media yang jika pakan berbentuk tepung, sedangkan yang cair ml/ton.Dosis terebut hanya untuk pakan buatan, sedangkan untuk dosis pakan alami yaitu sel/cc/hari atau individu /ekor larva/hari.
Pemberian pakan dilakukan setiap 4-6 kali/hari dengan selang waktu 4-5 jam. Larva suka makan pada malam hari maka pemberian pakan pada malam hari lebih baik dari pada siang hari, yaitu pukul 05.00, 10.00, 15.00, 20.00 dan pukul 24.00.
Pemberian pakan dilakukan dengan cara dimasukkan kedalam saringan yang kemudian dimaukkan ke dalam ember yang berisi air tawar. Setelah itu saringn diremas-remas sampai pakan yang ada dalam saringan habis, kemudian ditambahkan pakan alami. Pakan yang berada dalam ember yang berisi air tadi langsung ditebar ke dalam bak pemeliharan (Heryadi D dan Sutadi, (1993).
2.3.4 Pengelolaan Kualitas Air
         Menurut Elovaara, A.K (2001) temperatur air untuk optimalkan pertumbuhan dan transisi dari satu larva ke larva berikutnya adalah 280C, sedangkan salinitas adalah 26-30 dan pH sekitar 8,0, namun pH 7,8 sampai 8,4 sudah cukup.
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) dalam pengelolaan kualitas air ada beberapa perlakuan agar air media tetap sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva, diantaranya :
1. Penyimponan
Penyimponan dilakukan agar sisa-sisa pakan buatan maupun sisa-sisa metabolisme larva dapat dikeluarkan sehingga tidak terjadi penumpukan dan pembusukandalam air media.
          Penyimponan dapat dilakukan setelah larva mencapai stadium mysis, frekuensinya 2 hari sekali, waktunya setelah 2 jam pemberian pakan. Cara menyimpon adalah sebagai berikut :
• Blower dimatikan,setelah itu slang yang akan digunakan utuk menyedot air diisi air penuh dan dipasang saringan pada salah satu ujungnya.
• Kemudian slang dimasukkan kedalam bak dan ujungnya yang dilepas tutupnya sehingga air keluar dengan sendirinya.
2.3.5  Pemanenan
 Pemanenan benur dilakukan mulai pada stadia PL10 atau ukuran PL telah mencapai 1 cm dan yang telah memenuhi kriteria-kriteria benur yang siap dipanen. Caranya adalah membuka saluran pembuangan yang telah diberi saringan di dalamnya agar air yang keluar tidak deras dan benur tidak ikut keluar. Sebelum hal tersebut dilakukan terlebih dahulu mengurangi ketinggian air hingga 6-10 cm sehingga benur mudah ditangkap dengan menggunakan serok. Setelah ketinggian air mencapai 5 cm hentikan penyerokan dan buka saringan, sehinga sisa benur akan keluar bersama air tersebut. Langkah berikutnya adaptasi salinitas, penghitungan, dan pengemasan. Survival rate yang di hasilkan dalam pemeliharaan larva dengan rata-rata 30% (Heryadi D dan Sutadi 1993).

2.3.6 Pemasaran 
          Hasil panen benur udang vannamei biasanya langsung dibeli oleh para petambak yang langsung dating ke hatchery. Benur udang vannamei yang sering dibeli yaitu benih vannamei yang sering tebar yang berumur PL10-PL30. Harga jual udang sangat tergantung pada kualitas benih. Benih tersebut harus sehat, kulit dan tubuh bersih dari organisme parasit, tidak cacat, tubuh tidak pucat, gesit, merespon cahaya dan bergerak aktif. Selain itu harga benih udang juga dipengeruhi oleh ukuran panjang dan bobot sesuai umur PL serta musim penebaran benur di tambak (Haliman dan Adiwijaya, 2005).
          Untuk memperoleh harga jual yang baik dan pemasaran yang efisien, penyusunan program pemasaran harus dilibatkan sedikit mungkin pemasaran. Dengan demikian, jalur lembaga pemasaran yang sedikit akan terbentuk margin pemasaran yang rendah sehingga harga ditingkat hatchery tinggi dan harga ditingkat konsumen layak jadi kedua belah pihak (pengusaha pembenihan atau pemeliharaan larva dengan konsumen) sering diuntungkan. Margin pemasaran adalah selisih antara harga ditingkat konsumen dengan harga jual di tingkat produsen benur (Haliman dan Adijaya, 2005).
2.3.7  Pengangkutan
          Menurut Heryadi D dan Sutadi (1993) pengangkutan benur ummnya dilakukan dengan cara tertutup dan terbuka. Pengangkutan cara tertutup disenangi karena pengirimannya dapat dilakukan dengan menggunakan bus, kereta api, pesawat udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es, kantong pastik, tabung oksigen dan kardus Styrofoam.
          Kunci keberhasilan dalam pengangkutan cara tertutup adalah suhu dan kepadatan. Dalam pengangkutan diusahakan agar suhu tetap rendah, oleh karena itu setelah plastik diikat, maka bagian luarnya digantungkan plastik berisi es. Untuk daerah tropis suhu yang dianggap aman adalah 18-20 0 C.
Kepadatan yang aman dalam pengankutan cara tertutup yaitu 4.000-6.000 ekor /kantong. Setiap kantong diisi dengan 4 liter air dengan perbandingan oksigen dan air 5:1. Pengangkutan dengan cara ini akan aman jika lama perjalanan maksimum 6 jam.























III. METODOLOGI

3.1 Lokasi dan Waktu Praktek Kerja Lapang (PKL) II
          Praktek Kerja Lapang (PKL) II ini dilaksanakan di BBAP Situbondo selama 21 hari mulai dari tanggal 10 Oktober sampai dengan 31 Oktober 2011.

3.2 Metode Praktek Kerja Lapang (PKL) II
          Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang (PKL) II adalah metode survey yaitu pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta dan mencari fakta secara factual, tentang kegiatan pemeliharaan larva udang vannamei di BBAP (Nazir, 1988).
          Sedangkan untuk menambah keterampilan di lapangan digunakan sistem magang. Martosudarmo, B dan Ranoemiharjo (1993) mengungkapkan bahwa setiap sistem magang adalah suatu metode belajar mengajar dalam bentuk praktek secara langsung di tempat yang digunakan untuk magang yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kecakapan dalam membuat kreatifitas, sikap kritis, rasa percaya diri dan jiwa kewiraswastaan.

3.3 Sumber Data
          Adapun sumber data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Menurut Subagyo (1981), data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melainkan data yang telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen.



3.4 Teknik Pengumpulan Data
          Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara. Menurut Narbuko dan Ahmadi (2001).
a.Observasi
Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diamati, misalnya pengamatan kualitas air, manajemen pakan, padat tebar, SR panen, hama dan penyakit serta cara penanggulangannya.
b.Wawancara
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung
secara lisan yang dimana seseorang atau lebih bertatap muka mendengarkan
secara langsung informasi dan keterangan dengan menggunakan alat bantu daftar pertanyaan seperti pada lampiran 1.

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
          Menurut Narbuko dan Ahmadi (2001), setelah data primer dan data sekunder terkumpul kemudian data tersebut  diolah dengan cara:
a.  Editing          : Kegiatan mengecek, memeriksa dan mengoreksi data  yang
  telah terkumpul.
b. Tabulating     : Menyusun data ke dalam bentuk tabel agar mudah
                            dimengerti.                                           
          Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Penggunaan analisis deskriptif bertujuan agar menyajikan data sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tanpa memberikan perlakuan apapun, sehingga dapat dengan mudah mengambil kesimpulan. (Surayabrata, S. 1991).



IV. KEADAAN UMUM

4.1 Keadaan Umum Lokasi
4.1.1 Lokasi BBAP Situbondo
            Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo terdiri dari lima divisi yakni, divisi ikan, divisi udang,  divisi budidaya, instalasi udang Gelung dan instalasi pembenihan udang Tuban. Secara geografis BBAP Situbondo terletak pada posisi 113055’56’’ BT – 114000’00” BT dan 07040’32” LS – 07042’35” LS. Divisi ikan sekaligus sebagai kantor utama BBAP Situbondo terletak di Dusun Pecaron, Desa Klatakan, Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo. Divisi udang terletak di Desa Blitok, Kecamatan Mlandingan Kabupaten Situbondo. Sedangkan divisi budidaya berlokasi di Desa Pulokerto, Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Sedangkan instalasi pembenihan Gelung terletak di Desa Gelung, Kecamatan Panarukan kabupaten Situbondo. Batas – batas lokasi BBAP Situbondo yakni sebelah  utara berbatasan dengan selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan PT. Central Pertiwi Bahari (CPB), sebelah selatan berbatasan dengan rumah penduduk dan sebelah barat berbatasan dengan pemukiman penduduk Desa Klatakan.
4.1.2 Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo
            Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo berdiri pada tahun 1986 yang pada awalnya bernama proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur di bawah naungan Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian. Sub senter udang windu ini terletak di Desa Blitok, Kecamatan Mlandingan Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara, Jawa Tengah. Kemudian melepaskan diri dari BBAP Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai Budidaya Air Payau yang ditetapkan pada tanggal 18 april 1994 melalui surat keputusan Menteri Pertanian nomor : 246/Kpts/OT.210/4/94. Loka Balai Budidaya Air Payau terdiri dari tiga divisi meliputi divisi ikan, divisi udang dan divisi budidaya.
         Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau yang bertanggung jawab kepada Direktorat Jendral Perikanan. Dengan beban tugas dan tanggung jawabnya semakin berat maka pada tanggal 1 mei 2001 Status Loka Balai Budidaya Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau Situbondo berdasarkan surat Keputusan menteri perikanan dan Kelautan No. KEP.26 D.MEN/2001.
4.1.3 Tugas dan Fungsi BBAP Situbondo
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.26D/MEN/2001, Balai Budidaya Air payau Situbondo mempunyai tugas melaksanakan penerapan teknik pembenihan pembudidayaan ikan air payau serta pelestarian sumberdaya induk /benih ikan dan lingkungan. Dalam melaksanakan tugas, BBAP Situbondo menyelenggarakan fungsi:
a. Pengkajian, pengujian, dan bimbingan penerapan standar pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
b. Pengkajian standard dan pelaksanaan sertifikasi sistim mutu dan sertifikasi personil pembenihan serta pembudidayaan ikan air payau.
c.  Pengkajian system dan tata laksana produksi dan pengelolaan induk penjenis dan induk dasar ikan payau.
d. Pelaksanaan pengujian teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
e. Pengkajian standar pengawasan benih, pembudidayaan, serta pengendalian hama dan penyakit ikan air payau.
f.   Pengkajian standar pengendalian lingkungan dan sumber daya induk/benih ikan air payau.
g. Pelaksanaan sistim jaringan labolatorium pengujian,pengawasan benih,dan pembudidayaan ikan air payau.
h.  Pengelolaon dan pelayanan informasi dan publikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
i.   Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
4.1.4 Struktur Organisasi
            Berdasarkan surat keputusan menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP. 26 D/MEN/2001 pembagian tugas dan fungsi kerja dengan susunan organisasi terdiri dari seksi standarisasi dan informasi, seksi pelayanan teknis, sub bagian tata usaha dan kelompok jabatan fungsional. Untuk lebih jelasnya struktur organisasi BBAP Situbondo dapat dilihat pada lampiran 2.
         Kepala BBAP Situbondo bertugas untuk merumuskan kegiatan, mengkoordinasi dan mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau serta pelestarian sumber daya induk atau benih ikan air payau dan lingkungan serta membina bawahan dan di lingkungan BBAP Situbondo sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas. Seksi standarisasi dan informasi mempunyai tugas untuk menyiapkan bahan standart teknik dan pengawasan pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
         Sub bagian tata usaha mempunyai tugas melakukan administrasi keuangan, kepegawaian, persuratan, perlengkapan dan rumah tangga serta pelaporan. Kelompok jabatan fungsional di lingkungan BBAP Situbondo bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan, pengujian, penerapan, bimbingan hama dan penyakit ikan, pengawasan pembenihan, pembudidayaan dan penyuluhan serta kegiatan lain sesuai tugas masing – masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

4.2 Sarana dan Prasarana
4.2.1. Sarana
a)    Bak Induk
Untuk memproduksi nauplius udang vanname di butuhkan bak induk yang di bedakan menjadi beberapa fungsi yaitu:
Ø  Bak penampungan / karantina: berfungsi untuk menampung induk yang baru datang, diadaptasi dan dilakukan pengecekan penyakit. Bentuk bak bulat, oval aau persegi panjang, bersudut tumpul dengan luas dasarminimal 20 m², dengan ketinggian bak minimal 1m dan kedalaman air minimal 0,6 m ( jarak antara permukaan air dan bibir bak minimal 0,3 m). warna dasar bak cerah dan warna dinding bak gelap, atau warna keseluruhannya cerah. Bak terbuat dari semen, fiber glass atau plastik.
Ø  Bak pematangan dan perkawinan : berfungsi untuk pematangan gonad induk setelah matang gonad dilakukan pada bak yang sama. Bentuk bak bulat, oval aau persegi panjang, bersudut tumpul dengan luas dasarminimal 20 m², dengan ketinggian bak minimal 1m dan kedalaman air minimal 0,6 m ( jarak antara permukaan air dan bibir bak minimal 0,3 m). warna dasar bak cerah dan warna dinding bak gelap, atau warna keseluruhannya cerah. Bak terbuat dari semen, fiber glass atau plastik.
Ø  Bak pemijahan dan penetasan : berfungsi untuk memijahkan induk yang telah matang gonad, bentuk bulat, oval atau persegi panjang, bersudut tumpul dengan ketinggian 0.8 m sampai dengan 1m. dan kedalaman air minimal 0,6 m serta luas dasar bak minimal 2m². bak pemijahan ada yang berfungsi sabagai bak penetasan jika telur tidak di cuci. Maka untuk bak penetasan volume minimal 300 liter dengan ketinggian bak 0,8 m sampai dengan 1m dan kedalaman air minimal 0,6 m. bak terbuat dari semen , fiber glass atau plastik.
b)   Bak pemeliharaan larva dan bak pakan alami
Bak pemeliharaan larva dan bak pakan alami pada pembenihan udang umumnya tidak jauh berbeda karena ukuran bak sama,  dengan volume bak 3,75 m, lebar 2,75 m dan ketinggian 1,25 m bak berbentuk persegi panjang dan sedikit miring dengan tujuan untuk mempermudah panen.
c)    Instalasi pengadaan air laut
Air laut baku merupakan kebutuhan pokok dari suatu unit usaha pembenihan. Secara fisik air laut harus jernih, tidak berbau dan tidak membawa bahan endapan baik suspensi maupaun amulsi. Untuk mendapatkan air laut yang baik maka di butuhkan instalasi air laut yang terdiri dari filter, pompa dan jaringan distribusi air laut.
d)    Filter hisap
Sesuai dengan fungsinya filter hisap ditempatkan pada bagian ujung pipa hisap pompa. Posisi penempatan filter dapat vertikal maupun horizontal sesuai dengan kontur dasar perairan. Fungsi utama filter hisap adalah mencegah terhsapnya partikel kasar dari perairan seperti bebatuan , bahan organik dan jasad aquatik lainya yang dapat mengganggu atau menghambat kerja pompa.
Pada umumnya filter hisap diletakan secara horizontal untuk meringankan kerja pompa. Penempatan filter hisap pada perairan yang memiliki terumbu karang diletakan melebihi gars surutair laut. Pada perairan yang baik tidak memiliki terumbu karang  dan memiliki sedimentasi yang tinggi. Penempatan filter hisap  diletakan melebihi surut air laut terendah dengan menggunakan kerangka tancap di dasar perairan.
Pada usaha pembenihan skala kecil filter hisap di fungsikan secara ganda sekaligus sebagai penyaring partikel tersuspensi terutama partikel lumpur. Sistem filter ini sering disebut giant filter. Giant filter hanya dapat digunakan pada perairan yang berpasir. Pasir dasar perairan berfungsi sebagai bahan penyaring. Bahan pembuata giant filter umumnya terdiri atas pipa PVC yang diameternya tergantung dari besarnya pipa hisap  yang digunakan dan dilubangi sekitar 1,5 inchi. Jumlah lubang diatur sedemikian rupa sehingga jumlahnya maksimal. Pipa yang telah dilubangi dibungkus dengan waring(screen) dan ijuk. Bagian terluar dibungkus lagi dengan waring. Kemudian diletakan secarahorizontal dan dibenamkan kedalam pasir dengan kedalaman 0,5-1 m.
Agar kerja filter hisap lebih maksimal maka ukuran dan panjangnya disesuaikan dengan diameter pipa hisap ( ukuran pompa) yang digunakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel beriku ini:                              
Tabel 2 . Panjang dan diameter pipa hisap
No.
Ukuran pipa pompa air laut
Diameter filter hisap
Panjang filter hsap
1
2
3
4
5
2”
4”
4”
4”
8”
4”
4”
6”
8”
8”
1 m
4 m
2 m
1 m
2 m
 Sumber: BBAP Situbonbo (2011)
e)    Bak tandon
Bak tandon mekanis dibuat berdasarkan kebuhan air laut maksimal perhari untuk 1 unit pembenihan dengan 12 buah larva dan 24 buah bak paka alami dapat di buat 2 buah bak tandon dengan ukuran 4x4x1,3 m (kapasitas optimal 20 ton) dan satu bua bak tower air laut dengan ukuran 4x4x2,2 m (kapasitas optimal 40 ton)  yang berfungsi sebagai distribusi air laut  ke bak pembenihan dan bak pakan alami secara gravitasi. Bak filter mekanis diletakan didalam bak tandon dengan ukuran 1 x 2 x 1.3 m. kedua tandon bak di hubungkan dengan pipa PVC 4” secara seri yang dlengkapi dengan stop kran pencucian. Untuk mendistribusikan air yang sudah terfilter secara gravitasi maka dibutuhkan pompa untuk menaikan air ke bak tower.
Bak filter mekanis diisi dengan beberapa material untuk menyaring partikel-partikel yang tersuspensi pada ai laut. Beberapa meterial yang digunakan adalah batu kali ukuran sedang, batu kali ukuran kecil (krikil), ijuk, arang kayu atau arang tempurung kelapa dan pasir kwarsa (silikat). Batu kali dan ijuk berfungsi sebagai penyaring partiker lumpur yang tersuspensi. Pasir kwarsa selain berfungsi sebagai penyaring partikel lumpur yang utama juga berfungsi sebagai pengikat bahan- bahan organik dan anorganik yang merugikan.
Urutan penempatan material filter mekanis dari bawah ke atas adalah batu kali sedang, batu kerikil, arang kayu, ijuk dan pasir kwarsa. Setiap lapisan dilapisi dengan screen atau waring.untuk materal pasir kwarsa ketebalan yang di butuhkan ± 50 cm. Bak fiter mekanis diisi penuh dengan bahan-bahan yang telah disbutkan diatas. Untuk memudahkan pencucian setiap bahan dapat di masukan kedalam kantong yang terbuat dari waring terutama arang kayu dan pasir kwarsa.
f)     Genset
Genset adalah alat yang berfungsi  untuk  pembangkit tenaga listrik sebagai pengganti PLN suatu lingkungan Hatchery. Genset sangatlah penting dalam cadangan arus listrik apabila cadangan listrik dari PLN putus. Fungsi dari genset adalah sebagai penggerak blower, pompa, penerangan dan sebagainya. Bahan bakar yang digunakan untuk menggerakkan generator set tersebut adalah solar. BBAP Situbondo mempunyai 1 buah  genset.


4.2.2. Sarana Penunjang Lainnya
          Sarana penunjang meliputi: Saringan (saringan pakan, larva, dan air), termometer, salinometer, pompa celup, ember, wadah penetasan Artemia sp, seser, timbangan, selang, alat sipon, dan peralatan panen.
Tabel 3 . Sarana Penunjang

No.

Nama barang

Jumlah
Barang

Harga Satuan (Rp)

Jumlah Harga
(Rp)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
Genset
Mesin pompa air laut
Mesin pompa aleon
Pompa sub mersible pum
Perkakas mesin dan listrik
Blower Hiblow
Vortex blower
Pemadam kebakaran
Mesin potong rumput
Timbangan elektronik
Mikroskop digital
Refraktometer
Salinometer
Spektrofotometer
Kincir air pada kolam pemijahan
Alat sipon
4 buah
2 buah
1  buah
2 buah
1 buah
12 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
2 buah
4 buah
1 paket

2 buah
5 buah
2.500.000
12.000.000
-
40.000
-
30.000
400.000
439.000
3.476.000
350.000
4.900.000
1.250.000
-
-

-
-
10.000.000
24.000.000
-
80.000
-
360.000
800.000
878.000
3.476.000
1.250.000
9.800.000
2.500.000
-
-

-
-
Sumber: BBAP Situbonbo (2011)
4.2.3. Prasarana
a.    Transportasi
Sarana transportasi sangat diperlukan untuk pemasaran maupun pengangkutan larva juga untuk keperluan lainnya. Beberapa jenis sarana transportasi sebagai beikut :
ü  Mobil jenis double kabin untuk operasional kepala balai
ü  Mobil jenis Ex trail untuk kendaraan operasional bagian kepegawaian
ü  Mobil jenis kijang Innova untuk kendaraan operasional untuk kegiatan ACIAR PROJECT
ü  Mobil jenis mini bus untuk antar jemput karyawan
ü  Mobil jenis Elf untuk kegiatan budidaya pembenihan
ü  Mobil jenis Ranger untuk laboratorium berjalan
b.    Gudang
Gudang di BBAP Situbondo terdiri atas 3 unit gudang yaitu :
ü  Gudang kesehatan ikan dan lingkungan
ü  Gudang pakan buatan
ü  Gudang pakan Alami
c.    Prasarana Pelengkap
BBAP Situbondo dilengkapi fasilitas pelengkap yang sesuai dengan kebutuhan antara lain :
ü  Bangunan perkantoran
ü  Perumahan
ü  Mushalla
ü  Asrama
ü  Perpustakaan
ü  Pos jaga

V.  HASIL DAN PEMBAHASAN
                                                                                               
5.1 Persiapan Bak                                                         
            Bak pemeliharaan larva berukuran 3,75 m dan lebar 2,75 m dengan ketinggian 1,25 m dengan kapasitas 10 ton. Bak pemeliharaan ini terletak di ruangan untuk menghindari cahaya matahari secara langsung. Bak berbentuk persegi panjang dengan tujuan untuk mempermudah  panen.
Persiapan yang dimaksud adalah mengeringkan dan membersihkan dari segala bentuk kotoran-kotoran dan segala bentuk kehidupan organisme yang kemungkinan dapat berpengaruh terhadap kehidupan larva udang, karena organisme yang menempel dan belum mati akan menyebabkan timbulnya penyakit.
 Bak pemeliharaan terdiri dari bak beton dengan volume 10 m3 dan di lapisi dengan cat berwarna biru di karenakan agar mudah dalam pengecekan larva udang.
Adapun langkah–langkah dalam persiapan bak di BBAP Situbondo adalah sebagai berikut :
1)    Bak tersebut di cuci dengan menggunakan diterjen dan di siram dengan menggunakan air tawar karena air tawar dapat menyeterikan dari sisa-sisa bakteri.
2)    Bak diberi kaporit dengan dosis 100 ppm (100 gram) dan dibiarkan selama 1 minggu agar bakteri atau pathogen yang ada pada bak mati.
3)    Bak kembali dicuci dengan air tawar dan diberi natrium tiosulfat dengan dosis 10% dari dosis kaporit yang digunakan.
4)    Untuk menghindari pencemaran kotoran dari udara, bak yang telah dibersihkan tersebut ditutup menggunakan terpal dan bak siap untuk diisi air. Hal ini berbeda dengan apa yang di katakan oleh Heryadi, D dan Sutadi (1993),  yang mengatakan gahwa bak mengunakan zat-zat kimia seperti klorin dengan dosis 100 ppm, KMnO4 (kalium permanganat) 10 ppm, dan formalin 50 ppm.
            Sistem aerasi pada bak beton menggunakan aerasi gantung dengan jarak setiap aerasi 40 cm agar setiap pakan yang di berikan teraduk dengan rata dan jarak dari dasar bak adalah 5 cm agar kotoran dan sisa pakan tidak teraduk.

5.2 Persiapan Media
Air laut yang digunakan di lokasi praktek berasal dari perairan Selat Madura dan pengambilannya dilakukan dengan menggunakan pompa submersible dengan jarak ± 500 meter yang dialirkan melalui pipa berdiameter 6 inchi sedangkan menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) mengatakan bahwa air laut yang dibutuhkan adalah air yang berkadar garam 29-31 permil, dan bebas bahan pencemar. Pengelolaan air laut yang dilakukan yaitu filterisasi mekanis dan kimiawi. Filterisasi mekanis yang dimaksud yaitu berupa proses penyaringan melalui sandfilter, sedangkan untuk filterisasi kimiawi dilakukan dengan menggunakan sinar UV(Ultra Violet) sebanyak 2 kali.
a. Fungsi Ultra Violet
Ultra violet merupakan suatu perangkat yang berfungsi untuk menghilangkan atau menyaring jasad-jasad renik yang tidak dikehendaki.
b. Sistem Kerja
Ada 3 tipe   sisitem kerja filter ultra violet; yaitu :
  1. Tray type. Dalam hal ini lampu UV dipasang pada suatu reflektor diatas suatu wadah tipis (menyerupai baki/tray), kemudian air dialirkan secara perlahan melalui  wadah tersebut. Keuntungan: mudah dibersihkan, murah, dan dapat dibuat dengan ukuran besar.  Masalah: resiko keamanan terhadap mata, ukuran sering terlalu besar untuk ukuran rumahan. 
  2. Tube type, wet bulb.  Dalam hal ini air dialirkan langsung disekitar lampu tanpa reflektor yang dipasang pada tabung anti air.  Keuntungan: murah, efektif dan kompak.  Masalah: sulit dibersihkan,  resiko sengatan listrik (bocor).
  3. Lebay vs alay5629 - Copy.jpgLebay vs alay5628.jpgTube type, dry bulb.  Mirip dengan 2), tetapi dilengkapi dengan tabung gelas (gelas akan memblok sinar UV (C)) yang  mengisolasinya dari air.  Tipe ini  relatif lebih mahal tetapi lebih aman.  Penggantian lampu dapat dilakukan dengan mudah. Selain itu, biasanya dilengkapi dengan alat untuk menbersihkan lendir dari tabung gelas.



              

Gambar 2. Tandon                                     Gambar 3. Penyaringan Air
Sumber: BBAP Situbondo (2011)
Material yang digunakan dalam penyaringan sandfilter antara lain ijuk, pasir kwarsa, batu apung yang memiliki panjang rata-rata 3,5 cm dan diameter 7 cm serta arang kayu yang memiliki panjang rata-rata 11 cm dan diameter 15,5 cm.  Penyaringan yang dilakukan sebanyak tiga ulangan dengan urutan penempatan material filter yang digunakan dari atas ke bawah antara lain pasir kwarsa, batu apung dan ijuk serta arang kayu yang disusun secara terpisah dari material
lainnya pada bak yang berbeda bersebelahan dengan bak filter sebelumnya yang bertujuan untuk menyaring partikel-partikel yang tersuspensi pada air laut, dimana hasil dari penyaringan sand filter dapat dilihat dari air laut yang tampak jernih.
Setelah proses filterisasi kemudian air tersebut dialirkan ke dalam bak penyimpanan air (reservoir) untuk dilakukan treatmen menggunakan kaporit yang berfungsi sebagai desinfektan terhadap mikroorganisme pathogen pembawa penyakit. Material filter mekanis dan skema sand filter penyaringan air laut yang digunakan di lokasi praktek dapat dilihat pada Gambar 4.
Air laut
 

 2,5 ton  Pasir kwarsa
                
  1 ton     Batu apung    Arang Kayu   3 ton
                    
0,5 ton           Ijuk
 
                                                              
               




















 



 
                                   a                                                     b
Gambar 4.     a. Arang kayu, pasir kwarsa, batu apung
 b. Skema sand filter penyaringan air laut
Sumber: BBAP Situbondo (2011)
Proses pengelolaan air laut yang dilakukan di lokasi praktek dirasa sudah cukup efektif, hal ini dibuktikkan dengan pengecekkan kandungan bakteri pada air tersebut di Laboratorium Kesehatan Lingkungan. Dimana hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kandungan vibrio dalam batas normal yaitu 10 CFU/ml. Air yang dinyatakan steril akan ditransfer kedalam tandon/tower yang terletak pada ketinggian 30 m diatas permukaan tanah dan siap untuk di distribusikan pada unit pemeliharaan induk dan larva maupun kebutuhan kultur pakan alami.
Meskipun demikian pengelolaan air seperti ini tetap memiliki kekurangan dengan masih adanya protozoa dalam air, namun jumlahnya masih dapat ditolerir.
Pengisian air laut ke dalam bak larva dilakukan dengan menggunakan  filter bag. Air laut langsung di transfer dari tandon yang sebelumnya telah di lakukan perlakuan UV( Ultra Violet) di bak tandon dan di salurkan ke bak larva. Bak tandon ditutupi dengan terpal agar kotoran tidak masuk ke dalam bak tandon hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah dkk (2006) yang menyatakan bahwa bak filter mekanis diisi dengan beberapa material untuk menyaring partikel-pertikel yang tersuspensi pada air laut dan beberapa material yang digunakan adalah batu kali ukuran sedang, batu kali ukuran kecil (kerikil), ijuk, arang kayu serta pasir kwarsa (silika).
Sumber air tawar Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo berasal dari sumur bor yang disedot dengan pompa penghisap yang dipasang dengan kedalaman 40 meter. Air tawar digunakan untuk mencuci bak dan peralatan produksi, menurunkan kadar garam air laut serta untuk kebutuhan sehari-hari bagi para karyawan Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo .
5.3  Penebaran Nauplius
Penebaran nauplius udang vaname dilakukan pada pagi hari , hal ini agar fluktuasi suhu tidak tinggi yang dapat menyebabkan larva stress dan mengalami kematian. Nauplius yang di tebar berasal dari pemijahan induk yang di lakukan di BBAP Pecaron. Sebelum nauplius dimasukan ke dalam bak pemeliharaan, terlebih dahulu  dilakukan proses aklimatisasi yaitu pengadaptasian lingkungan baru bagi naupli agar tidak terjadi stress hal ini sesuai dengan apa yang di katakan oleh Heryadi, D dan Sutadi (1993), yang mengatakan sebelum naupli ditebar ke dalam bak perlu diperhatikan salinitas, kondisi naupli, dan suhu air media. Proses aklimatisasi dilakukan dengan mencampurkan naupli dengan air baru pada bak pemeliharaan, naupli ditaruh didalam sebuah baskom yang nantinya akan dialirkan ke dalam baskom lain yang berisi air baru. Proses aklimatisasi selesai jika baskom yang berisi air baru telah tenggelam ke dalam air bak pemeliharaan. Nauplius yang di tebar pada bak pemeliharan 1.170.000 ekor/bak (10 ton) 117.000 /ton.
Gambar 5.  Proses Aklimitasi (Data Primer, 2011)

5.4  Manajemen Pakan
5.4.1  Pakan Alami
   Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam. Pakan alami yang digunakan di BBAP Situbondo adalah artemia salina dan skelotonema costatum hal ini sesuai dengan apa yang di katakan oleh (Heryadi D dan Sutadi, (1993), yang mengatakan pakan alami yang biasa diberian pada larva udang vannamei yaitu Skeletonema costatum dan Artemia sp.
a.  Artemia salina
          Nauplius artemia merupakan pakan alami jenis zooplankton yang diberikan pada larva udang mulai dari stadia post larva 1 sampai selanjutnya hal ini berbeda dengan apa yang di katakan oleh (Heryadi D dan Sutadi, (1993) yang mengatakan pakan alami ini sangat dibutuhkan pada stadium akhir napulius (N-6) atau awal stadium zoea. Pemberian nauplius artemia dikarenakan banyak mengandung nilai nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh larva dan merupakan zooplankton yang bergerak aktif sehingga dapat merangsang serta meningkatkan nafsu makan larva udang. Kandungan nutrisi dapat di lihat pada:
Tabel 4     Kandungan Nutrisi Naupli Artemia
No.
Kandungan Nutrisi
Komposisi (%)
1.
Protein
40 – 60
2.
Karbohidrat
15 – 20
3.
Lemak
15 – 20
4.
Air
1 -10
5.
Abu
3 – 4
Sumber : BBAP Situbondo, (2011)
1.    Proses Dekapsulasi
         1 kaleng cyste artemia dibuka dan dituang ke dalam timba, rendam cyste artemia dengan air tawar ± 10 liter dan berikan chlorine. Fungsi dari chlorine adalah melarutkan senyawa lipoprotein pada cangkang telur artemia yang banyak mengandung heamatin sehingga mempercepat pengikisan cangkang telur artemia. Proses dekapsulasi Artemia sp dapat dilihat pada Lampiran 4.
         Tekanan adukan yang kuat yang bertujuan menghomogenkan larutan chlorine dalam proses dekapsulasi. Setelah dekapsulasi cyste artemia, saring dengan memakai saringan 100 µ di dalam timba, lalu dibilas hingga bersih dengan air tawar sampai bau chlorine. Selama proses dekapsulasi diusahakan suhu tidak lebih dari 40ºC karena dapat menyebabkan artemia terbakar dan mati. Proses dekapsulasi diulang 3 - 4 kali yang diakhiri dengan perubahan warna dari warna awal (coklat) menjadi merah bata. Kemudian diletakkan pada baskom yang dibagi menjadi empat  bagian. Setiap proses pengkulturan hanya membutuhkan satu bagian saja dan sisanya dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Kultur dilakukan setiap hari pada pagi hari untuk memasok naupli artemia pada keesokan harinya.
         Tong plastik yang menjadi tempat kultur atau menetaskan cyste artemia bervolume 250 liter diisi air laut yang telah steril sebanyak 200 liter dan diberi aerasi. Cyste artemia akan menetas menjadi nauplius artemia sekitar 12 - 24 jam. Keuntungan dari dekapsulasi artemia adalah:
1.    Membunuh bakteri dan jamur yang terdapat pada cyste melalui pemberian chlorine.
2.    Mengurangi kotoran cangkang setelah penetasan karena adanya penipisan pada cangkang.
3.    Lebih cepat menetas karena nauplius artemia mudah merobek cangkang yang tipis, sehingga tingkat penetasan tinggi.
b. Skelotonema costatum
         Skelotonem costatum merupakan salah satu jenis phytoplankton dari kelompok diatom. Dalam kegunaannya Balai Budidaya Air Payau Situbondo menggunakan skelotonema ini sebagai pakan alami larva udang vaname dari   N-M3. Frekuensi pemberian nauplius Artemia sama dengan Skeletonema costatum  yaitu hanya dua kali dalam sehari, pagi (07.00) dan sore hari (15.00).
5.4.2 Pakan Buatan
1.  Jenis Pakan Buatan
          Pakan buatan merupakan pakan yang diberikan pada larva udang selama proses pemeliharaan selain pakan alami. Pakan buatan berperan sebagai pakan tambahan dan untuk menjaga agar tidak sampai terjadi under feeding. Hal ini sependapat Sumeru dan Anna (1992), yang menyatakan bahwa pakan buatan merupakan alternatif yang penyediaannya secara continue atau berlanjut memungkinkan dapat digunakan sebagai pengganti atau pelengkap makanan hidup.
          Di BBAP Situbondo pakan buatan diperoleh atau didapat dengan tidak memilih bahan dan meramu pakan secara manual atau dibuat sendiri melainkan diperoleh dengan membeli langsung dari produsen pembuat pakan buatan atau pabrik dalam bentuk powder dan cair. Pakan buatan yang digunakan bermerek Rotemia yang memiliki komposisi atau kandungan nilai gizi dan nutrisi yang tinggi yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan larva udang.
Tabel 5 Pakan Buatan
No
Nama Pakan Buatan
Stadia
Komposisi

1

RotemiaTM


N
Mysis3

Protein min 52%, lipid 16 %, Fiber max 7 %, moisture 8 %, Ash max 6,5 %


2

Rotofier

Z
PL5

Protein min 50%, moisture max 8%, Fiber max 6%, lipid 16%, Ash max 6,5%

3

Brine Shrimp Flakes

Z
PL15

Protein min 48%, lipid 12%, Fiber max 3%, moisture 8%, Ash max 10%
Sumber : BBAP Situbondo (2011)
23102011338Untuk lebih jelasnya  dapat dilihat pada Gambar 5.
22102011305    

           





Gambar 5. Pakan Buatan ( Data Primer, 2011)

Tabel 6 Ukuran pakan
NO
Jenis Pakan
Ukuran
1
Mesh Net
Mesh (75 µm-150 µm)
2
Rotofier
150-200 meshes (50-100 µm)
3
Dosage (g/ meal)
1-    2 (2,5  - 3,5)
Tabel 6. Sumber : BBAP SItubondo (2011)
5.5  Manajemen Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air pada pemeliharaan larva dilakukan dengan beberapa cara, yaitu monitoring, pengecekan kualitas air, dan pergantian air (water exchange). Monitoring kualitas air dilakukan setiap hari yaitu pada pagi hari dan sore hari. Parameter yang dilakukan monitoring secara rutin adalah suhu. Suhu merupakan faktor penting bagi metabolisme dan metamorfosis larva. Suhu untuk pemeliharaan larva yaitu berkisar 30-32o C. Pengecekan kualitas air dilakukan pada setiap pergantian stadia, parameter yang diukur adalah salinitas. Menurut BBAP Situbondo salinitas yang baik untuk pemeliharaan larva berkisar 29-34 %0 hal ini tidak sesuai dengan apa yang di katakan oleh Elovaara, A.K (2001), yang mengatakan salinitas air 26-30 %0. Selain pengukuran parameter tersebut juga dilakukan pergantian air dan penambahan air. Pengisian  pada awal penebaran naupli adalah 50% dari volume bak pemeliharaan, saat stadia zoea ditambahkan sampai 70%, stadia mysis 80%, dan stadia post larva mencapai 100%.
Pergantian air dilakukan setelah larva mencapai stadia mysis2 sampai PL3 berkisar 10-40% dan PL4 sampai panen PL10 mencapai 50-100% dari volume bak pemeliharaan yang terisi. Hal ini juga dilakukan bila terjadi blooming plankton atau banyak larva yang mati. Pergantian air biasanya dilakukan pagi dan sore hari, hal ini dilakukan untuk menghindari penurunan atau peningkatan suhu yang terlalu besar sehingga dapat menyebabkan kematian pada larva. Penyesuaian suhu air pada proses pergantian air juga dilakukan untuk menghindari tumbuhnya jamur pada dasar bak pemeliharaan.
Gambar 6. Refraktometer (Data Primer, 2011)

5.6  Pengamatan Kondisi dan Perkembangan Larva
Pengamatan kondisi dan perkembangan larva penting dilakukan karena larva udang memiliki beberapa stadia. Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fisik dan perkembangan tubuh larva yang dapat digunakan untuk mengetahui jumlah populasi sehingga dapat menetukan jumlah pakan yang diberikan.
Pengamatan dilakukan secara makroskopis. Pengamatan makroskopis dilakukan secara visual dengan mengambil sampel langsung  dari bak pemeliharaan menggunakan backer glass kemudian diarahakan ke cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva, pigmentasi, usus, sisa pakan, dan kotoran atau feses.Pengamatan ini dilakukan untuk mengamati morfologi tubuh larva, keberadaan parasit, patogen yang menyebabkan larva terserang penyakit.
1.      Fase naupli gerakannya berenang dan berhenti.
2.      Fase zoea gerakannya konstan, pergerakannya melingkar dan selalu makan sehingga dibagian tubuh belakangnya menempel kotoran yang mirip ekor.
3.      Fase mysis gerakannya kadang menjentik atau membengkokkan tubuhnya dan berenang mundur.
4.      Larva masuk stadia PL apabila badan lurus, berenang maju dan sudah tampak seperti udang dewasa.
       Perbedaan tiap stadia ini sesuai dengan pendapat Martosudarmo dan Ranoemiraharjo (1980) yang menyatakan bahwa fase naupli berenang sesuai pergerakan air,  fase zoea telah tampak alat pencernaan, fase mysis bergerak cukup aktif dan fase post larva sudah berbentuk udang dewasa.

5.7  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Proses pencegahan penyakit dilakukan mulai dari penerapan biosekuriti dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) atau kaporit sebanyak 1-2 ppm yang ditempatkan pada awal pintu masuk ruangan. Selain penerapan biosekuriti juga dilakukan sanitasi peralatan yang dilakukan sebelum dan sesudah pemakaian peralatan dengan cara merendam menggunakan kaporit atau formalin 100 ppm. Pada pemeliharaan larva dilakukan pemberian obat-obatan yang aman seperti vitamin C, Ethylene Diamine Tetra Acetic (EDTA), formalin, dan probiotik. Vitamin C pada setiap pemberian pakan berguna untuk meningkatkan ketahanan tubuh larva. Pemberian formalin juga dilakukan untuk menguji tingkat keprimaan larva yang dipelihara. EDTA berfungsi sebagai pengikat bahan organik dan logam berat, sedangkan pemberian probiotik yang dilakuakan secara rutin dapat meningkatkan kekebalan tubuh larva terhadap serangan pathogen. Probiotik juga dapat menekan pertumbuhan bakteri Vibrio harveyi. Jenis organisme yang umumnya menyerang larva udang vaname adalah golongan protozoa, virus, jamur, bakteri, dan cacing.
Pengendalian penyakit yaitu melalui pendekatan Better Management Practice (BMP). Penerapan BMP dipembenihan meliputi proses skrining, manajemen kualitas air, dan penggunaan bahan pengendali yang aman. Proses skrining yaitu proses budidaya dengan menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR). Skrining dilakukan pada induk dan benih siap tebar. Melalui skrining inilah didapatkan induk dan benih udang yang berkualitas dan bebas dari virus maupun bakteri.
Pengelolaan  kualitas air yang baik memegang peran peting dalam keberhasilan pembenihan. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri, fungi, parasit yaitu bersumber dari air. Oleh karena itu air sebelum digunakan untuk kegiatan budidaya harus dilakukan proses filtrasi, perlakuan ozon, dan penyinaran ultraviolet agar patogen yang terkandung dalam air mati. Selain itu penggunaan obat-obatan yang aman bagi kesehatan perlu dilakukan, seperti penggunaan bahan yang bersifat immunostimulan. Immunostimulan yang sering digunakan adalah pemberian probiotik yang sifatnya ramah lingkungan dan aman bagi manusia. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Subaidah dkk (2006) yang menyatakan bahwa pemberian obat-obatan yang aman yaitu treflan dan EDTA.
Gambar 8. Tempat Mencuci Kaki dengan Larutan PK Sebagai Penerapan Biosecurity (Data Primer, 2011)

5.8  Pemanenan dan Perhitungan (SR)
Perhitungan SR dilakukan dengan menggunakan metode sampling. Sampling dilakukan dengan mengambil sampel dari 3 titik pada setiap bak dengan menggunakan backer glass. Kemudian dilakukan perhitungan benih hasil sampling dan diperoleh jumlah benih yang berada dalam satu bak. Hasil rata – rata tiap bak yaitu 300.000 ekor.
Pemanenan benih dilakukan setelah benih  pada stadia PL5 sampai PL10 atau sesuai dengan pesanan. Pemanenan dilakukan dengan menurunkan air sebanyak 50%. Setelah itu pipa saringan dalam diangkat sehingga air dapat keluar tanpa ada penghambat. Sebelum pipa saringan dalam diangkat, pipa outlet terlebih dahulu diturunkan, dan air dari saluran pengeluaran ditampung pada jaring (Egg Collector) berbentuk kotak yang terbuat dari bahan kain strimin berukuran 500 mikron. Benih yang tertampung pada egg collector disaring kemudian ditransfer ke bak penampungan yang bervolume 1 ton. Benur yang ada pada bak 1 m3 nantinya akan dibagi kedalam kantong – kantong plastik yang berisi satu liter air. Kepadatan benur tiap kantong bervariasi tergantung ukuran benur, biasanya 2000-3000 ekor/kantong. Kantong-kantong tadi nantinya akan dibawa ke tempat packing. Survival rate yang diperoleh selama pemeliharaan larva sampai (PL5)   dengan perhitungan dengan cara 300.000/1.170.000x100% dan menghasilkan survival rate dengan rata – rata 25,6 % hal ini menunjukan bahwa pemeliharaan larva yang dilakukan di BBAP Situbondo di rasa cukup optimal dalam pemeliharaannya hal ini tidak sesuai dengan apa yang di kata oleh    (Heryadi D dan Sutadi 1993) yang mengatakan bahwa survival rate dalam pemeliharaan larva dengan rata-rata 30%.           
a.  Cara Panen
         Terlebih dahulu air dalam bak pemeliharaan larva diturunkan hingga 70% (volume bak 10 ton terisi air sebanyak 35 ton diturunkan menjadi 18 ton) melalui pipa goyang atau pipa pengeluaran dan pipa saringan bagian dalam hal ini sesuai dengan apa yang di katakan oleh (Heryadi D dan Sutadi 1993), yang mengatakan bahwa sebelum pemanenan harus mengurangi ketinggian air hingga 6-10 cm sehingga benur mudah ditangkap dengan menggunakan serok. Air yang keluar ditampung dengan menggunakan ember bersaring dengan ukuran saringan 300 µ untuk menampung benur yang mungkin ikut keluar saat pengurangan air. Benur diseser dan ditampung dalam baskom bersaring. Setelah jumlah benur dalam bak berkurang, pipa saringan bagian dalam dilepaskan untuk dilakukan panen total. Selanjutnya disaring kembali dengan saringan rangka besi ukuran 50 x 70 cm.
         Setelah pemanenan selesai, dilakukan sampling kepadatan benur dengan menggunakan takaran yang telah diperhitungkan dari setiap sampling tersebut, yakni dengan menggunakan skopnet dengan jumlah benur sebanyak 2.000 ekor/skopnet.
b.    Pengemasan
         Benur yang telah dipanen dan ditakar dituang dalam kantong plastik yang telah diisi air laut sebanyak 2 liter. Kemudian diberi oksigen (O2) dengan perbandingan air laut dan O2 1:1,5 atau sesuai dengan kepadatan dan jarak pengiriman. Ikat dengan karet gelang, dikemas ke dalam kardus yang berkapasitas 16 kantong masing-masing bervolume 2 liter dengan kepadatan 1.500 - 2.500 ekor/kantong dengan perbandingan air laut dan O2 1:1,5. Kardus di tutup rapat dan diisolasi.
         
                                         Gambar 9.  Panen larva (Data Primer 2011)




5.9 Pasca Panen
            Penanganan pasca panen yang dilakukan adalah menyeterilkan bak dari  bakteri yang menempel pada dinding bak. Bak di cuci dengan menggunakan diterjen dan juga menyiram bak dengan air tawar lalu bak di keringkan selama 1 minggu. Limbah yang di hasilkan dari pemeliharaan larva di buang melalui saluran pembungan air.

1 komentar: